TAPAL BATAS DIMENSI - sekuntum mawar berwarna jelaga

February 22nd, 2009 by adil-prasetyo

Kabut tebal merayap di sela -sela jari dan menyapu tempatku duduk termenung.
Pandangan mataku menerawang jauh menembus barisan awan hitam yang menggumpal dan
berarak pekat di kaki langit. Tangan ku sibuk menulis partitur di hamparan kanvas rumput dan
bibirku komat-kamit bersenandung sebuah bait lukisan perasaan melalui butiran -butiran awan
air mata yang mengalir jatuh baga ikan sebuah soneta yang tidak akan pernah termakan usia.
Sang kucing berbisik penuh pengertian seakan ta hu perasaan majikannya.
Kini dia telah pergi. Meninggalkan sesuatu yang sulit aku ingkari. Kesedihan dan
keputusasaan telah mengisi relung -relung hampa yang semakin tampak melebar. Sudah
setahun lebih sejak aku terakhir bertemu dengannya. Mulai detik terakhir sejak harapan yang
menghiasi wajahnya bagaikan sebuah kolase dalam pertunjukan hidup dan mati ditanggalkan.
Aku berdiri di atas lukisan kanvas rumput menantang hamparan awan dan berteriak lantang.
“Wahai engkau, seandainya aku ditakdirkan menjadi seorang romeo, maka aku tidak
akan berpura-pura menjadi buah hati yang melepaskan kerinduanku pada angin yang
berhembus. Memimpikan datang untuk melihatku mati dan bernafas seperti hidup dengan
sebuah ciuman di bibirku dan pelukan hangat yang selalu mendamaikanku. Ah, betapa
bodohnya aku terlalu lama berteman dengan janji bayangan semu hingga saat ini. Suaraku
terasa parau memenuhi partikel -partikel kabut yang menari -nari berputar dan menyelinap
dalam pori-pori baju hangatku.
Aku kembali terduduk dan menoleh kanan -kiri, kucingku yang setia sudak tak nampak
lagi, mungkin suaraku tidak terdengar lagi.
Sesosok tubuh mendekat perlahan dari sudut mati mataku dari balik awan yang
berarak. Ia ikut duduk disampingku dan mungkin ha nya berjarak satu langkah orang dewasa.
Aku tenggelam dalam pikiranku dan ti dak menyadari kedatangannya.
“Engkau terus saja menyanyikan nada -nada itu, padahal masih banyak nada lain yang
dapat kau pilih dan kau susun menjadi sebuah bait dan kau nyanyikan kembali?” Tanya sosok
tersebut mengajutkanku.
Aku hanya terdiam dan melirik d ari sudut mataku. Tanganku kembali asyik bermain
dengan perasaan dan tak kuhiraukan keberadaannya. Tiba -tiba jari telunjuknya menempel di
bibir.
Sst.. coba dengarkanlah perbatasan antara ruang dan waktu di sana. Terlalu banyak
kebisingan yang menerpanya, padahal ada sesuatu yang termenung sendirian dalam jarak
tersebut. Batas antara keyakinannya sendiri dan realita yang tampak bersetubuh mesra. Aku
bernyanyi hanya untuk menghiburnya, tidakkah kau tahu hal itu..?” jawabku.
“Dan apakah engkau bisa membayangkan bila engkau yang berada di perbatasan itu?
Mengutak-atik puzzle yang tampaknya mudah untuk tidak dipersoalkan, sedangkan ia
menuntut untuk dipecahkan siapa sebenarnya dirinya dan apa yang diinginkannya!?” lanjutku
dengan nada agak ketus karena nyanyianku dipotong seenaknya.
Sosok tersebut terdiam dan ditangannya tampak menggenggam setangkai mawar
berwarna hitam. Perlahan ia dekatkan mawar itu ke wajahnya, dan ia tampak sangat
menikmati aroma mawar itu, meskipun berwarna hitam jelaga. Ia menoleh ke arahku, sesaat
ia terdiam, akhirnya ia membuka mulut untuk berkata.
“Sangatlah menarik apa yang engkau katakan. Sama ketika sang pagi memulai hari
yang baru tetapi tetap dalam tingkah laku dan perasaan yang sama meskipun siang telah
berganti dengan malam dan malam telah berganti dengan siangnya… ti dakkah kita selalu
demikian? Sedangkan kita tahu apa yang baru tetap i tidak tahu apa yang sama dan kita
memang kebanyakan begitu. Atau malah sebali knya? Atau malah bukan keduanya?” balas
sosok tersebut bertanya sambil me lanjutkan kehausannya akan aroma mawar
digenggamannya.
Aku termenung sejenak. Ada sesuatu didalam hatiku yang mengganjal. Entah itu
seonggok batu yang sangat keras atau segenggam kapas, aku tidak tahu, walau aku telah
ribuan kali mencoba untuk merabanya. “ Itu bukanlah jawaban, melainkan penilaian. Engkau
belum menjawab pertanyaanku…!!”, aku berteriak dengan nada setengah marah.
“Engkau cukup jeli juga menyairkan kepastian analisa dalam kebingunganmu.
Mengingat selama ini engkau berada di dalamnya, hanya ber putar tanpa menemukan pintu
keluar. Engkau terjebak dalam pusara masa lalu yang alam sadarmu dapat menerima, namun
tidak demikian dengan alam bawah sadarmu.” Jawab sosok itu.
Keadaan menjadi hening seketika. Hembusan angin bertambah kencang sampai akar
nrimo pun berubah menjadi sebuah kerinduan dan tangisan tanpa arti.
“Baiklah, aku akan berkata jujur kepadamu. Sebenarnya aku pun tidak dapat
menjawab pertanyaanmu. Bukan karena aku tidak bi sa menjawab, melainkan aku tidak yakin
dengan kemampuan lidahku meras akan sama seperti apa yang engkau rasakan. Aku pun
masih terkekang oleh aroma mawar yang ada di tanganku ini.” Tandas sosok itu.
“Apa yang engkau maksud dengan kemampuan lidahmu?” tanyaku.
“Oh, seandainya engkau tahu sendiri bagaimana inderamu menari… kada ng-kadang
tidak sesuai dengan apa yang kita inginkan”, jawabnya.
“Engkau semakin membunuhku dengan sikap seekor lebah…” hardikku.
“Bolehkah aku bertanya dengan hatimu?, sahutnya.
“Silahkan, akan kujawab dengan lidahku”, jawabku.
“Apakah engkau masih menaru h cinta yang mendalam terhadap dia? Bahkan hingga
sekarang meskipun engkau tidak akan pernah bersetubuh lagi dengannya?”
“Masih… namun dengan keraguan-keraguanku yang tak menentu. Aku sadar masih
terjebak di perbatasan itu. Itulah yang menciptakan syair -syair bagi lagu-lagu yang selama ini
telah menghiburku…”
“Dan menggangguku?!” sahut sosok itu.
“Mengganggumu? Jadi selama ini nyanyianku mengganggumu? Maafkanlah aku. Aku
tidak tahu kalau ada orang lain selain aku di sini. Aku hanya ingin sedikit mengobati
kerinduanku dan ketakutanku”, kataku.
“Ketakutan..? ketakutan akan apa?”
“Ketakutanku menghadapi kenyataan bahwa aku telah berpisah dengan dia. Terpisah
tanah, air, udara, angin dan tentunya dengan hakikat dia”.
“Ha..ha..ha.. engkau benar-benar pecinta sejati. Kita memang ditakdirkan untuk
menetap selamanya di sini”.
“Apa maksudmu?”, tanyaku semakin keheranan.
“Tidakkah engkau tahu, bahwa inilah tempat tinggal kita sebenarnya. B ahkan sebelum
kita diberi udara, kita telah dibuatkan sebuah rumah, yaitu di sini , mengapa engkau harus
takut dan sedih?”, jawabnya.
“Tetapi apakah engkau tidak mengerti bahwa dialah tempat segala tawa , kesedihan, air
mata, cinta dan kerinduan yang mendasar dari aku sebagai suatu kesempurnaan yang
bermuara dan kemudian berputar saling mengisi? Dan sekarang aku kehilangan pusaran itu.
Ujung sungai telah mengeringkan dirinya, dan kini yang tertinggal hanya bekas”. Bantahku
berusaha menenangkan kegelisahan yang semakin memuncak.
“Itulah namanya sebuah permainan judi. Bila engkau mengalami kekalahan dan segala
hal yang kau pertaruhkan telah habis, maka pasti engkau ingin segera kembali ke sini. Dan
bila engkau selalu menang, aku yakin pasti engkau akan terus bertaruh dan takut untuk
kembali ke sini pula. Apakah engkau mengerti apa yang aku m aksud?”
“Ya, aku tahu. Jadi selama ini dia mempermainkan aku…?”, desahku.
“Lihatlah mawarku…”, perintah sosok itu.
Aku melihat ke arah tangan sosok itu, dalam genggamannya terdapat sekuntum
mawar, namun berwarna hitam. Baru kali ini aku menyadarinya.
“Engkau pasti bertanya-tanya mengapa mawar ini berwarna hitam. Mungkin ini dapat
engkau samakan dengan lagu-lagu yang selama ini engkau nyanyikan”, terang sosok itu.
“Ternyata engkau juga terjebak dalam permainan itu?” sahutku.
“Dahulu mawar ini berwarna merah. Semerah rekahan bibir para bidadari dan sesegar
hembusan angin surga. Orang-orang mengagumi dan memujaku. Bukan karena inti aku dari
aku, tetapi karena mawarku ini. Aku pertahankan mawar itu sekuat tenaga entah dengan cara
apapun. Aku pun berhasil. Para petaruh-petaruh lain semakin menghargai dan meninggikan
derajatku. Namun, tiba-tiba mawar itu hilang dari genggaman. Aku berusaha menanamnya
kembali, tetapi percuma. Sekarang aku sudah sangat jauh dari tempat mawar itu tumbuh dan
bersemi.“
Lalu?”, kejarku yang mulai menemukan awal dari ritme baru.
“Aku hanya bisa melihat mawar itu dari perbatasan ini, dan kemudian aku membuat
replikanya. Ternyata tidak bi sa. Mungkin bentuk sama, tapi ini sebenarnya mawar yang tak
berhakikat. Perasaanku yang terlalu merindu d an menyesal telah mencat mawar ini menjadi
hitam. Warna ini sudah tidak dapat diperbaiki lagi. Dan sekarang aku tahu.”
“Tahu apa? Bahwa ada hal yang lebih harum dari pada sekedar mawar ? Dan ternyata
selama ini ada yang lebih harum di diri kita dan ternyata kita justru membunuhnya hanya
demi mawar itu?”, tandasku.
Sosok tersebut memandangiku dengan senyum harapan. Aku pun secara tidak sadar
menatapnya. Aku terkejut. Aku tidak menyangka lidahku dapat mengatakan kalimat itu.
Jiwaku yang bergejolak mengucur den gan deras. Aku seperti diberi sepasang sayap yang
sering digunakan para cupid untuk terbang. Melesat jauh melebihi angan -anganku selama ini.
“Sekarang engkau telah menemukan jawaban mengapa engkau masih terjebak di sini.
Dan kau telah berhasil memecahkan p uzzlemu. Apakah engkau telah siap meninggalkan
perbatasan ini dan segala kerinduan, nyany ianmu tentang dia, dan juga mawarku ini dengan
segala konsekuensi yang selama ini telah kita rajut menjadi pakaian kumal dan kotor?”, Tanya
sosok itu.
Waktu terlihat semakin letih memutar gerigi -gerigi roda jam. Nafas yang terengahengah
seakan tidak mampu memberinya dorongan yang kuat.
“Entahlah… beri aku waktu sebentar. Aku masih mencintai dia. Tetapi… kini
mungkin aku sudah mulai menemukan cara menyusun puzzl e itu. Izinkan aku menyanyi
untuk dia beberapa bait lagi, s ekaligus menampar jantung ini le bih kuat”, jawabku dengan
pelan dan serau.
“Baiklah, aku akan segera beranjak dari sini. Aku tidak tahu apakah kita akan bertemu
lagi dalam balutan yang sama. Biarlah itu te tap menjadi misteri bagi kita yang selamanya,
abadi, dan terus dipertanyakan. Jangan khawatir, kita pasti akan segera menemukan
jawabannya.”
Sosok tersebut beranjak pergi dari sebelahku. Melangkah pelan menembus pekatnya
pintu dimensi yang kemudian menghil ang meninggalkan perbatasan itu untuk selamanya.
Yang tertinggal untukku hanyalah setangkai mawar hitam, yang seketika itu juga hancur
dihadapanku tanpa meninggalkan suatu pertanda apapun sebagai bukti kewujudannya kecuali
kematiannya.
Tidak terasa matahari sudah berlari dari timur untuk membagi -bagikan harapan. Tapi
tempat dimana aku duduk masih tampak seperti malam dengan kegelapannya yang memencar. Bahkan bias-bias cahaya pun enggan menemani aku. Aku bernyanyi untuk
terakhir kalinya. Tidak terdengar lagi kesedihan dan isak tangis yang mengiringi nyanyianku.
Angin mulai menyeka air mataku yang telah mengalir selama jutaan detik seperti
seorang kesatria yang menuruni bukit untuk menghadapi kekalahannya dalam perang yang tak
kunjung usai. Namun kali ini tida k ada kekalahan, melainkan luka yang telah tertutup oleh
genderang kemenangan laksana panji -panji yang berkibar dan terikat kokoh d i pelana
perasaan.

Tapal Batas Dimensi - Epilog kala senja

February 22nd, 2009 by adil-prasetyo

Kenapa tak pernah kau tambatkan.

perahumu di satu dermaga?

Padahal kulihat, bukan hanya satu.

pelabuhan tenang yang mau menerima.

kehadiran kapalmu!!

Kalau dulu memang pernah ada

satu pelabuhan kecil, yang kemudian

harus kau lupakan,

mengapa tak kau cari pelabuhan lain,

yang akan memberikan rasa damai yang lebih?

Seandainya kau mau,

buka tirai di sanubarimu, dan kau akan tahu,

pelabuhan mana yang ingin kau singgahi untuk selamanya,

hingga pelabuhan itu jadi rumahmu,

rumah dan pelabuhan hatimu.

–***–

Luka yang telah tertutup oleh genderang kemenangan meninggalkan guratan yang terukir dalam bagai sebuah prasasti mimpi yang tak akan pernah terwujud walau dalam imaginer. Detik berdetak, bumi berputar, begitu pula jantung yang terus berdegup. Sebuah kehidupan muncul setelah sembilan bulan, begitu pula perjalanan pelana perasaan. Takdir kejadian yang tergurat tak akan bisa diingkari. Bagai sebuah soneta gurindam dalam detak ritme jiwa. Semilir angin menerbangkan kapas-kapas yang tak akan pernah bisa kupintal menjadi benang-benang.

Aku kembali tenggelam dalam dialektika maya. Bukan pertempuran masa lalu namun intrik antara hati dan logika. Ada mimpi dalam malam ketiga mempertemukan akal dengan baying abstrak. Dan bahkan semesta bahasa tidak pernah tuntas melukiskan itu. Pusara kembali berpusar membawaku ke tempat dimana sembilan bulan lalu aku pernah terjebak, ruang kosong terkutuk di antara dua dimensi realis. Masih tetap sama dan akan selalu sama. Hamparan awan putih terhampar bagaikan permadani bidadari, kubah biru cerah membentuk langit yang indah namun mencekam jiwa. Kucingku yang setia menggelayut manja di sela dua kakiku, hatiku tersentak sengatan déjà vu yang amat sangat. Kutengok kanan kiri tak kulihat sosok yang dulu pernah ada. “ah.. ternyata hanya aku si pandir yang kembali terjerat!!”: bisikku dalam hati.

Mimpi-mimpi telah kembali ke tepian setengahnya, yang setengahnya lagi adalah kebodohan hati ini yang berfikir keinginan itu suci. Sebentar lagi kereta akan sampai di akhir stasiun perjumpaan. Satu bungaku yang baru akan mekar susah sangat, layu. Tak jadi kupetik. Kenapa tatapmu sebening dan sehening gunung es? Kenapa senyummu sehampa bunga kamboja? Kenapa kau simpan rapat hangat sapamu? Sosok dia terselimuti samar. Aku tahu pasti itu bukan kabut. Seperti orang lain memberikan penyebutan akan itu. Itu bukan kabut meski jelas itu samar. Kalian hanya mengajari satu hal kebenaran kepadaku. Bahwa benar-benar aku berada dalam keraguan yang sangat aku yakini.

Selalu kumulai dialegtika dunia dengan mata. Termasuk saat berjumpa dengan kau dalam sebuah perjumpaan. Beberapa kali kutatap dirimu lekat, tentu saja tanpa seijinmu. Dan hal itulah yang sampai detik ini kusesali. Mekipun hanya pandangan aku terlalu lancang mengambil sesuatu yang bukan hakku. Tentu saja hak untuk mengagumi gurat manis wajahmu dan sedikit sibakan ujung rambut yang tidak sempat kau rapikan setiap jalan bergegas meuju ruang-ruang kehidupan. Pikiranku melayang secepat kilat menembus batas. Bukan sebilah pedang yang menembus, tetapi ribuan lipatan ketiak dan lekukan tubuh-tubuh rebah. Ah.. lantaskah kita menyebut tak bermoral orang-orang yang memaksakan kejujurannya tetap didengar dan dimengerti?? Abstrak…

Aku ingin menghentikan laju kereta dan membaringkan diriku dalam perhentian ruang dan waktu. Susah sangat, jalan ini adalah ruang sempit yang semakin menghimpit. Bukankah lebih indah jika kita selamanya dalam kenyataan yang tak pernah kau anggap nyata ini?? Apa yang nyata dalam ruang tidak nyata ini?? Bukan mimpi-mimpi.. ruang batas waktu, roda-rodanya setajam kejujuran itu sendiri. Kau hadir diantara hijau hitamnya kehidupan ini.

Kepalaku berkedut, semua kembali menghitam. Sayup terdengar nyanyian syahdu yang sangat pilu. “aku kenal lagu itu!!”, bisikku. Jiwaku meronta tetapi raga ini belum mau bersahabat. Beberapa saat kemudian aku dibangunkan sesosok. Dia mencium keningku. Yaa.. kecupan yang hangat dan mesra. “siapa gerangan dirimu?”, tanyaku. “aku hakmu namun kau tak berhak atas diriku.”, balasnya tersenyum simpul. Kulihat sekeliling, aku terbaring di hamparan bunga mawar berwarna keemasan. “kaukah sosok dengan mawar hitam?”, tanyaku masih kebingungan. Dia tak berkata apa-apa. Tangan lembutnya membenahkan letak leher kemejaku dan membelai rambutku yang berantakan. “kenapa kau pikir aku dia dan mengapa pula kau masih saja terbelenggu kebodohanmu? dia bertanya dengan nada ketus dan air muka berubah. Aku tersentak, seperti terpanah ribuan jarum. “kau bertanya pada jiwaku, tetapi lidahku yang mampu menjawab.” balasku parau. “itulah mengapa kau kembali ke sini.” ujarnya sambil berlalu menghilang.

Aku termenung ditemani hembusan angin dingin yang merayap di sela-sela jari kaki dan menyapu hamparan mawar bagaikan patung terpancang selama jutaan tahun hingga gerigi-gerigi roda jam berdecit mencicit. Meski jelang sesaat, kumasih setia menimang rindu dan membelai rambutmu di mitsalku. Di tengah lamunan kurasakan keberadaan sosok arah 9, kukejar sepenuh akal yang tersisa. Kutemukan dia di tepian keraguan. “inikah sebab kau disini?”, tanyaku. “dan kau juga!!”, hardiknya cepat. “Malam tadi aku telah bertemu denganmu, kenapa kau kembali lagi ke sini?”, tanya dia membuka perbincangan. “maaf, tadi pagi aku lupa lagi wajahmu, padahal aku ingin sekali terus bersamamu.”, jawabku. “sudah kubilang lukislah aku di kanvas putih ini. Bukankah yang kau butuhkan hanya gambar wajahku?” dia menyodorkan kain berbingkai dari balik sayap dan tangannya.

“bukankah telah kubilang aku tak akan pernah mampu menggambarmu. Kuasku terlalu santun untuk melukis wajahmu. Dan kau terlalu lembut untuk kubayangkan setiap saat bergumul denganku. Cukup aku seperti ini. Biar tidak setiap saat aku menemukanmu dan tidak setiap saat aku bersamamu. Aku ingin selalu merasakan kerinduan ini.” ujarku. “kau adalah lelaki yang tidak pernah akan dan ingin kukenal dalam kenyataan. Karena kau tidak memiliki dunia itu. Itu alasannya aku hanya sempat singgah dan tidak menjadi teman sejati dalam kehidupanmu.”, jawabnya.

“aku merindukan setiap hela dan merasakan denyut desah nafasmu. Selambat saat ingin aku selalu menyertaimu. Biar masih terasakan bahwa rindu itu lebih indah dari kebersamaan.” Untuk beberapa lama aku mampu meraih dan memagut setiap yang kuinginkan dari dirimu. Namun seperti biasa hanya sesaat kau menjumpaku. “arti keberadaanku disini telah aku temukan, tetapi tidak untukmu. Kau terkungkung dalam semesta bahasa dan etika yang tidak mampu kau lampaui, kau tidak bisa membuka ruang dan waktu yang disebut paradigma. Tentu masih ingat kau pada janji-jani baptis pedang waktu dulu. Harusnya aku dipertemukan denganmu beberapa jam sebelumnya. Sebelum kau sempat mengucapkan janji bai’at itu. Sehingga tak cukup waktu belenggu dan kuasa semesta itu mengungkungmu.”,ujarku.

“aku yakin kamu pasti merasakan sama. Seperti juga setiap tengah malam kau sempat menghubungiku sekedar ucap hai!?” ujarnya. “aku tak ingin menyibak banyak kata dari cerita ini, biar menjadi hambar dan janggal. Aku tau pasti kau telah lelap dalam semesta surga.”,sergahku. Dia hanya terdiam seribu bahasa. “kau bisa lepas dari sini hanya ketika kau bisa mengenali dirimu dan berdamai dengan hatimu. Dengarkan kata hatimu, jangan pernah kau abaikan.”,ujarku.

“selamat tinggal, kalau memang takdir kita. Kita akan bertemu di dunia nyata, tidak di batas dimensi ini.”, kataku sambil berlalu dan menghilang. Aku terbangun di hamparan rumput dipayungi semburat kuning keemasan mentari senja. Senyum simpul tersungging di bibirku. “inilah akhirnya, apakah dia akan baik-baik saja? Semoga kuasa Tuhan berlaku atasnya.”,batinku.

Hebatnya Cinta

November 28th, 2008 by adil-prasetyo

(Disadur dan dikubah dari buku Art of Love karya Erich Fromm)

HEBATNYA CINTA

Kado valentine buat para pencinta

Cinta, memang aneh. Cinta memang membingungkan. Cinta itu menyenangkan. Cinta itu

menyedihkan. Cinta itu indah. Apa, cinta itu kejam? Entah apa sebenarnya cinta itu?

Setiap orang mengartikannya berbeda satu sama lain. Apakah cinta itu nyata ata u semu?

Entahlah!! Banyak kita jumpai kata “cinta” disegala lini kehidupan. Banyak orang yang

membicarakannya kapan dan dimanapun. Hebatnya cinta, cinta dapat membu at hati

berbunga-bunga, senang dan bahagia. Hebatnya pula, cinta bisa menjadikan hati terlena,

hanyut terbawa perasaan. Dan lebih hebatnya lagi, cinta bisa membuat mereka rela

mengkorbankan segalanya; kesucian, kehormatan , status, harga diri dan kesetiaan yang

telah ada. Tak kalah hebatnya, kata cinta bisa menjadi senjata yang paling ampuh. Senjata

yang ampuh yang digunakan oleh para pengembara cinta, pengobral cinta yang ngtren

kita sebut playboy atau buaya darat untuk memperoleh banyak cinta.

Cinta. Cinta adalah jawaban atas problem keberadaan (eksistensi) manusia. Cinta timbul

karena adanya rasa keterpisahan, ketersendiri an, serta rasa kesepian manusia. Hasrat akan

peleburan, penyatuan manusia mendoro ng lahirnya cinta. Cinta adalah kekuatan aktif

yang bersemayam dalam diri manusia; kekuatan yang mengatasi tembok yang

memisahkan manusia dengan sesamanya, kekuatan yang menyatukan manusia satu

dengan yang lainnya; cinta adalah cara u ntuk mengatasi problem ketertutupan (isolasi)

dan keterpisahan, dengan tanpa mengkorbankan integritas serta keunikan diri masing -

masing. Cinta menuntut dua sosok menjadi satu namun tetap dua (become one and yet

remain two). Bicara tentang cinta, bahwa cinta selalu memuat dan menuntut adanya

elemen-elemen dasar tertentu, yakni mencintai, perhatian, tanggungjawab,

penghargaan serta pemahaman.

Cinta. Apakah cinta itu? Erich Fromm, cinta itu memerlukan pengetahuan atau

pengertian dan perjuangan. Dia menyebutnya cinta sebagai seni. Ataukah cinta itu hanya

sebentuk perasaan menyenangkan yang dialami secara kebetulan saja, sesuatu yang

membuat kita tercebur kedalamnya jika kita sedang beruntung?

Cinta, pada saat sekarang orang condong mengartikannya hanya sebagai perasaan

menyenangkan secara kebetulan saja. Kecenderungan ini sama sekali bukan karena

mereka menganggap remeh soal cinta. Justru kenyataan yang terjadi adalah sebalikny a:

orang-orang sekarang selalu haus akan cinta, namun secara tak langsung pula mereka

telah meremehkan cinta ketika memperlakukan cinta sebagai pemuas nafsu. Tanpa

mengenal lelah mereka menonton pilem-pilem bertemakan cinta dan tak henti-hentinya

mereka mendengarkan beratus -ratus lagu tak bermutu tentang cinta. Namun demikian

tetap saja mereka tidak mampu untuk mencintai. Hanya sedikit yang menyadari bahwa

ada hal penting yang mesti dipelajari berkaitan dengan masalah cinta yaitu kemampuan

Cinta telah melahirkan sikap aneh. Dimana sikap aneh tersebut timbul dikarena adanya

anggapan bahwa persoalan cinta adalah persoalan obyek, bukan persoalan kemampuan.

Mereka berpikir cinta itu mudah, bagi mereka yang sulit justru ad alah mencari obyek

yang tepat untuk mencintai atau dicintai. Padahal disaat mereka telah memperoleh obyek

yang tepat, merekapun dihadapkan pada persoalan kemampuan; kemampuan untuk

menjaga cinta, mempertahankan cinta, melestarikan cinta, kemampuan menerima realitas

apa adanya dari obyek cinta dan kemampuan untuk menerima dan menya tukan segala

perbedaan yang ada. Hal lain yang mendasari sikap aneh yang diidap oleh orang sekarang

juga berakar dalam corak dari zaman sekarang itu sendiri. Ciri dari zaman sekarang tidak

dapat dipungkiri memainkan peranan penting dalam mempengaruhi panda ngan

masyarakat terhadap masalah cinta. Sebagaimana umum diketahui, kebudayaan kita

sekarang ini secara keseluruhan didasarkan pada nafsu untuk membeli dan menukar. Bagi

laki-laki zaman sekarang, gadis yang menarik tak ubahnya bingkisan yang selalu mereka

inginkan. Dan sebaliknya – bagi perempuan – lelaki yang menarik adalah hadiah yang

selalu mereka dambakan.

Cinta membuat orang gila. Sehingga ada pula diantara mereka yang memperlakukan

cinta bagai barang dagangan; cinta dapat dibeli, ditukar dan dibuang begitu saja setelah

mereka bosan. Buktinya dengan adanya pelacuran, perselingkuhan, sex bebas dan trend

perceraian yang sedang ramai -ramainya saat sekarang. Mereka menganggap cinta sebagai

nafsu belaka, cinta sebagai sex belaka. Namun cinta bukanlah sex. Cinta bukan

terlahirkan karena naluri seksual. Dan sebaliknya naluri seksuallah yang merupakan

manifestasi dari kebutuhan akan cinta dan kesatuan. Cinta yang hanya didasarkan oleh

sex bukanlah cinta. Sex tidak dapat membuktikan cinta.

Cinta begitu sulit diartikan. Seringkali kita keliru dalam membedakan antara arti;

pengalaman jatuh cinta (falling in love), mengada dalam cinta (being in love) dan berdiri

dalam cinta (standing in love). Jatuh cinta bukanlah cinta, saling mengenal bukanlah cin ta

sepenuhnya. Tak jarang kita telah merasakan jatuh cinta namun tidak dapat

mempertahankan benih cinta kita karena tak mampu terus mencintai. Cinta adalah ketika

kita saling mengenal, saling membutuhkan karena saling mencintai. Saling menjaga,

melestarikan cinta karena mencintai. Menerima perbedaan dan mengikatkan diri satu

sama lain karena mencintai.

Kebodohan cinta membuat sesal dan kecewa. Dalam kasus dimana dua oran g yang

sebelumya merupakan orang asing satu sama lain bersepakat untuk meruntuhkan tem bok

yang selama ini memisahkan mereka dan kemudian merasa dekat, merasa satu, mak a

momen kesatuan ini menjadi salah satu pengalaman yang palin g menyenangkan dan

mempesona dalam hidup. Pengalaman semacam ini akan benar -benar menjadi

pengalaman yang sangat indah dan menakjubkan bagi pribadi -pribadi yang selama ini

tertutup, terisolasi dan tanpa cinta. Keajaiban dari keintiman tiba-tiba ini kerapkali

menjadi kian dahsyat begitu ia disandingkan dengan atau dipacu oleh daya tarik seksual

serta pemenuhannya. Namun mesti diingat bahwa cinta tipe ini pada hakekatnya tidak

akan pernah bisa berlangsung lama. Karena dalam proses berikutnya, dua pribadi tersebut

akan saling mengenal secara lebih baik, sehingga keintiman yang selama ini mereka

rasakan menjadi semakin hil ang keajaibannya. Dan pada akhirnya segala macam

pertentangan, kekecewaan serta p erasaan bosan akan membunuh segala yang tersisa;

pesona yang sebelumnya menyelimuti mereka akan sirna. Namun situasi tersebut tidak

pernah mereka sadari sebelumnya karena mere ka sibuk terlelap dalam has rat akan birahi

dan cumbu rayu, saling terpesona dan te rgila-gila, untuk menunjukkan betapa dalam dan

dahsyatnya cinta mereka. Padahal semua cumbu rayu dan kegandrungan itu sama sekali

tidak membuktikan apa-apa kecuali rasa kesepian yang mereka derita sebelumnya.

Dengan cinta. Dalam valentine day ada cinta. Ada sedikit harapan kepada semua orang,

para pemuja cinta, sadar akan suatu hal yang terpenting dari cinta. Yaitu kemampuan

untuk tetap mencintai tanpa menafikan pentingnya mencintai, perhatian, tanggungjawab,

penghargaan serta pemahaman. Dengan kemampuan untuk tetap mencintai kita mampu

merobohkan segala perbedaan yang ada , bersatu walau kita takkan pernah sama. Dengan

kemampuan untuk tetap mencintai pula, kita akan mampu berkorban demi orang-orang

yang kita cintai walau perih yang kita terima. Dengan kemampuan untuk mencintai kita

akan merasakan indahnya cinta dan menerima segala takdir yang ada. Karena dibalik

benci ada cinta dan dibalik duka ada bahagia. Happy valentine…. .

cangkir yang cantik

January 6th, 2007 by adil-prasetyo

Sepasang kakek dan nenek
pergi belanja di sebuah toko suvenir untuk mencari hadiah buat cucu mereka.
Kemudian mata mereka tertuju kepada sebuah cangkir yang cantik. "Lihat
cangkir itu," kata si nenek kepada suaminya. "Kau benar, inilah
cangkir tercantik yang pernah aku lihat," ujar si kakek.

Saat mereka mendekati
cangkir itu, tiba-tiba cangkir yang dimaksud
berbicara "Terima kasih untuk perhatiannya, perlu diketahui bahwa aku
dulunya tidak cantik. Sebelum menjadi cangkir yang dikagumi, aku hanyalah
seonggok tanah liat yang tidak berguna. Namun suatu hari ada seorang
pengrajin dengan tangan kotor melempar aku ke sebuah roda berputar. Kemudian ia
mulai memutar-mutar aku hingga aku merasa pusing. Stop!! Stop!!
Aku berteriak, Tetapi orang itu berkata "belum!!" lalu ia mulai
menyodok
dan meninjuku berulang-ulang. Stop!! Stop!! teriakku lagi. Tapi orang ini
masih saja meninjuku, tanpa menghiraukan teriakanku. Bahkan lebih buruk
lagi ia memasukkan aku ke dalam perapian. Panas!! Panas!! Teriakku dengan
keras. Stop!! Cukup!! Teriakku lagi. Tapi orang ini berkata "belum!!"
Akhirnya ia mengangkat aku dari perapian itu dan membiarkan aku sampai dingin.
Aku pikir, selesailah penderitaanku. Oh ternyata belum. Setelah dingin aku
diberikan kepada seorang wanita muda dan dan ia mulai mewarnai aku. Asapnya
begitu memualkan. Stop!! Stop!! Aku berteriak. Wanita itu berkata
"belum!!" Lalu ia memberikan aku kepada seorang pria dan ia
memasukkan aku lagi ke perapian yang lebih panas dari sebelumnya!! Tolong!! Hentikan
penyiksaan ini!! Sambil menangis aku berteriak sekuat-kuatnya. Tapi orang ini
tidak peduli dengan teriakanku. Ia terus membakarku. Setelah puas
"menyiksaku" kini aku dibiarkan dingin. Setelah benar-benar dingin,
seorang wanita cantik mengangkatku dan
menempatkan aku dekat kaca. Aku melihat diriku. Aku terkejut sekali. Aku
hampir tidak percaya, karena di hadapanku berdiri sebuah cangkir yang
begitu cantik. Semua kesakitan dan penderitaanku yang lalu menjadi sirna
tatkala kulihat diriku.

Renungan
:

Seperti inilah Tuhan
membentuk kita. Pada saat Tuhan membentuk kita,
tidaklah menyenangkan, sakit, penuh penderitaan, dan banyak air mata. Tetapi
inilah satu-satunya cara bagi-Nya untuk mengubah kita supaya menjadi cantik
dan memancarkan kemuliaan-Nya.

"Anggaplah sebagai
suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai pencobaan, sebab Anda
tahu bahwa ujian terhadap kita menghasilkan
ketekunan. Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang supaya
Anda menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apapun."

Apabila Anda sedang
menghadapi ujian hidup, jangan kecil hati, karena Dia sedang membentuk Anda.
Bentukan-bentukan ini memang menyakitkan tetapi
setelah semua proses itu selesai, Anda akan melihat betapa cantiknya Tuhan
membentuk Anda.

belalang dan anjing

January 6th, 2007 by adil-prasetyo

Di suatu hutan, hiduplah seekor belalang muda yang cerdik.
Belalang muda ini adalah belalang yang lompatannya paling tinggi diantara
sesama belalang yang lainnya. Belalang muda ini sangat membanggakan kemampuan
lompatannya ini. Sehari-harinya belalang tersebut melompat dari atas tanah ke
dahan-dahan pohon yang tinggi, dan kemudian makan daun-daunan yang ada di atas
pohon tersebut. Dari atas pohon tersebut belalang dapat melihat satu desa di
kejauhan yang kelihatannya indah dan sejuk. Timbul satu keinginan di dalam
hatinya untuk suatu saat dapat pergi kesana. Suatu hari, saat yang dinantikan
itu tibalah. Teman setianya, seekor burung merpati, mengajaknya untuk terbang
dan pergi ke desa tersebut. Dengan semangat yang meluap-luap, kedua binatang
itu pergi bersama ke desa tersebut. Setelah mendarat mereka mulai
berjalan-jalan melihat keindahan desa itu. Akhirnya mereka sampai di suatu
taman yang indah berpagar tinggi, yang dijaga oleh seekor anjing besar.
Belalang itu bertanya kepada anjing, "Siapakah kamu, dan apa yang kamu
lakukan disini?" "Aku adalah anjing penjaga taman ini. Aku dipilih
oleh majikanku karena aku adalah anjing terbaik di desa ini" jawab anjing
dengan sombongnya. Mendengar perkataan si anjing, panaslah hati belalang
muda.Dia lalu berkata lagi "Hmm, tidak semua binatang bisa kau kalahkan.
Aku menantangmu untuk membuktikan bahwa aku bisa mengalahkanmu. Aku menantangmu
untuk bertanding melompat, siapakah yang paling tinggi diantara kita".
"Baik", jawab si anjing. "Di depan sana ada pagar yang tinggi.
Mari kita bertanding,

siapakah yang bisa melompati pagar tersebut". Keduanya
lalu berbarengan menuju ke pagar tersebut. Kesempatan pertama adalah si anjing.
Setelah mengambil ancang-ancang, anjing itu lalu berlari dengan kencang, melompat,
dan berhasil melompati pagar yang setinggi orang dewasa tersebut tersebut.
Kesempatan berikutnya adalah si belalang muda. Dengan sekuat tenaga belalang
tersebut melompat. Namun ternyata kekuatan lompatannya hanya mencapai tiga
perempat tinggi pagar tersebut, dan kemudian belalang itu jatuh kembali ke
tempatnya semula. Dia lalu mencoba melompat lagi dan melompat lagi, namun
ternyata gagal pula. Si anjing lalu menghampiri belalang dan sambil tertawa
berkata ,"Nah belalang, apa lagi yang mau kamu katakan sekarang ? Kamu
sudah kalah". "Belum", jawab si belalang. "Tantangan
pertama tadi kamu yang menentukan. Beranikah kamu sekarang jika saya yang
menentukan tantangan kedua ?" "Apapun tantangan itu, aku siap"
tukas si anjing. Belalang lalu berkata lagi, "Tantangan kedua ini
sederhana saja. Kita berlomba melompat di tempat. Pemenangnya akan diukur bukan
dari seberapa tinggi dia melompat, dari diukur dari lompatan yang dilakukan
tersebut berapa kali tinggi tubuhnya". Anjing kembali yang mencoba pertama
kali. Dari hasil lompatannya, ternyata anjing berhasil melompat setinggi empat
kali tinggi tubuhnya. Berikutnya adalah giliran si belalang. Lompatan belalang
hanya setinggi setengah dari lompatan anjing, namun ketinggian lompatan
tersebut ternyata setara dengan empat puluh kali tinggi tubuhnya. Dan belalang
pun menjadi pemenang untuk lomba yang kedua ini. Kali ini anjing menghampiri
belalang dengan rasa kagum. "Hebat. Kamu menjadi pemenang untuk perlombaan
kedua ini. Tapi pemenangnya belum ada. Kita masih harus mengadakan lomba
ketiga", kata si anjing. "Tidak perlu", jawab si belalang.
"Karena pada dasarnya pemenang dari setiap perlombaan yang kita adakan
adalah mereka yang menentukan standard perlombaannya. Pada saat lomba pertama
kamu yang menentukan standard perlombaannya dan kamu yang menang. Demikian pula
lomba kedua saya yang menentukan, saya pula yang menang.

INTINYA ADALAH, KAMU DAN SAYA MEMPUNYAI POTENSI DAN STANDARD
YANG BERBEDA TENTANG KEMENANGAN. ADALAH TIDAK BIJAKSANA MEMBANDINGKAN POTENSI
KITA DENGAN YANG LAIN. KEMENANGAN SEJATI ADALAH KETIKA DENGAN POTENSI YANG KAMU
MILIKI, KAMU BISA MELAMPAUI STANDARD DIRIMU SENDIRI.

REFLECTION :
Rekan-rekan yang terkasih, seberapakah tinggikah anda
`melompat’ ? Dalam kehidupan, seringkali tanpa sadar kita mencoba membandingkan
kemajuan dan perkembangan diri kita dengan standard

orang lain. Dan seringkali lebih banyak kekecewaan daripada
kebahagiaan yang didapat. Mengapa ? Karena kita masing-masing dilahirkan dengan
potensi yang berbeda, dengan bakat yang berbeda, dalam lingkungan yang berbeda,
dan cara pandang yang berbeda tentang kehidupan. Cara yang tepat untuk mengukur
seberapa jauh diri kita telah berkembang dan maju, adalah membandingkan diri
kita saat ini dengan diri kita dimasa lalu. Apakah anda hari ini lebih kaya
dibanding setahun yang lalu ? Apakah anda hari ini lebih bisa mengontrol emosi
dibanding bulan lalu ? Apakah anda hari ini lebih sehat dibanding kemarin ?
Apakah anda hari ini lebih bijaksana dibanding setahun yang lalu ? Kemenangan
sejati bukanlah kemenangan atas orang lain, namun kemenangan atas diri sendiri.
Buat diri anda hari ini selalu lebih baik dari hari kemarin.

Aku Seorang Pelaut

February 28th, 2006 by adil-prasetyo

Kenapa tak pernah kau tambatkan

perahumu di satu dermaga?

Padahal kulihat, bukan hanya satu

pelabuhan tenang yang mau menerima

kehadiran kapalmu!

Kalau dulu memang pernah ada

satu pelabuhan kecil, yang kemudian

harus kau lupakan,

mengapa tak kaucari pelabuhan lain,

yang akan memberikan rasa damai yang lebih?

Seandainya kau mau,

buka tirai di sanubarimu, dan kau akan tahu,

pelabuhan mana yang ingin kau singgahi untuk selamanya,

hingga pelabuhan itu menjadi rumahmu,

rumah dan pelabuhan hatimu.