TAPAL BATAS DIMENSI - sekuntum mawar berwarna jelaga
February 22nd, 2009 by adil-prasetyoKabut tebal merayap di sela -sela jari dan menyapu tempatku duduk termenung.
Pandangan mataku menerawang jauh menembus barisan awan hitam yang menggumpal dan
berarak pekat di kaki langit. Tangan ku sibuk menulis partitur di hamparan kanvas rumput dan
bibirku komat-kamit bersenandung sebuah bait lukisan perasaan melalui butiran -butiran awan
air mata yang mengalir jatuh baga ikan sebuah soneta yang tidak akan pernah termakan usia.
Sang kucing berbisik penuh pengertian seakan ta hu perasaan majikannya.
Kini dia telah pergi. Meninggalkan sesuatu yang sulit aku ingkari. Kesedihan dan
keputusasaan telah mengisi relung -relung hampa yang semakin tampak melebar. Sudah
setahun lebih sejak aku terakhir bertemu dengannya. Mulai detik terakhir sejak harapan yang
menghiasi wajahnya bagaikan sebuah kolase dalam pertunjukan hidup dan mati ditanggalkan.
Aku berdiri di atas lukisan kanvas rumput menantang hamparan awan dan berteriak lantang.
“Wahai engkau, seandainya aku ditakdirkan menjadi seorang romeo, maka aku tidak
akan berpura-pura menjadi buah hati yang melepaskan kerinduanku pada angin yang
berhembus. Memimpikan datang untuk melihatku mati dan bernafas seperti hidup dengan
sebuah ciuman di bibirku dan pelukan hangat yang selalu mendamaikanku. Ah, betapa
bodohnya aku terlalu lama berteman dengan janji bayangan semu hingga saat ini. Suaraku
terasa parau memenuhi partikel -partikel kabut yang menari -nari berputar dan menyelinap
dalam pori-pori baju hangatku.
Aku kembali terduduk dan menoleh kanan -kiri, kucingku yang setia sudak tak nampak
lagi, mungkin suaraku tidak terdengar lagi.
Sesosok tubuh mendekat perlahan dari sudut mati mataku dari balik awan yang
berarak. Ia ikut duduk disampingku dan mungkin ha nya berjarak satu langkah orang dewasa.
Aku tenggelam dalam pikiranku dan ti dak menyadari kedatangannya.
“Engkau terus saja menyanyikan nada -nada itu, padahal masih banyak nada lain yang
dapat kau pilih dan kau susun menjadi sebuah bait dan kau nyanyikan kembali?” Tanya sosok
tersebut mengajutkanku.
Aku hanya terdiam dan melirik d ari sudut mataku. Tanganku kembali asyik bermain
dengan perasaan dan tak kuhiraukan keberadaannya. Tiba -tiba jari telunjuknya menempel di
bibir.
Sst.. coba dengarkanlah perbatasan antara ruang dan waktu di sana. Terlalu banyak
kebisingan yang menerpanya, padahal ada sesuatu yang termenung sendirian dalam jarak
tersebut. Batas antara keyakinannya sendiri dan realita yang tampak bersetubuh mesra. Aku
bernyanyi hanya untuk menghiburnya, tidakkah kau tahu hal itu..?” jawabku.
“Dan apakah engkau bisa membayangkan bila engkau yang berada di perbatasan itu?
Mengutak-atik puzzle yang tampaknya mudah untuk tidak dipersoalkan, sedangkan ia
menuntut untuk dipecahkan siapa sebenarnya dirinya dan apa yang diinginkannya!?” lanjutku
dengan nada agak ketus karena nyanyianku dipotong seenaknya.
Sosok tersebut terdiam dan ditangannya tampak menggenggam setangkai mawar
berwarna hitam. Perlahan ia dekatkan mawar itu ke wajahnya, dan ia tampak sangat
menikmati aroma mawar itu, meskipun berwarna hitam jelaga. Ia menoleh ke arahku, sesaat
ia terdiam, akhirnya ia membuka mulut untuk berkata.
“Sangatlah menarik apa yang engkau katakan. Sama ketika sang pagi memulai hari
yang baru tetapi tetap dalam tingkah laku dan perasaan yang sama meskipun siang telah
berganti dengan malam dan malam telah berganti dengan siangnya… ti dakkah kita selalu
demikian? Sedangkan kita tahu apa yang baru tetap i tidak tahu apa yang sama dan kita
memang kebanyakan begitu. Atau malah sebali knya? Atau malah bukan keduanya?” balas
sosok tersebut bertanya sambil me lanjutkan kehausannya akan aroma mawar
digenggamannya.
Aku termenung sejenak. Ada sesuatu didalam hatiku yang mengganjal. Entah itu
seonggok batu yang sangat keras atau segenggam kapas, aku tidak tahu, walau aku telah
ribuan kali mencoba untuk merabanya. “ Itu bukanlah jawaban, melainkan penilaian. Engkau
belum menjawab pertanyaanku…!!”, aku berteriak dengan nada setengah marah.
“Engkau cukup jeli juga menyairkan kepastian analisa dalam kebingunganmu.
Mengingat selama ini engkau berada di dalamnya, hanya ber putar tanpa menemukan pintu
keluar. Engkau terjebak dalam pusara masa lalu yang alam sadarmu dapat menerima, namun
tidak demikian dengan alam bawah sadarmu.” Jawab sosok itu.
Keadaan menjadi hening seketika. Hembusan angin bertambah kencang sampai akar
nrimo pun berubah menjadi sebuah kerinduan dan tangisan tanpa arti.
“Baiklah, aku akan berkata jujur kepadamu. Sebenarnya aku pun tidak dapat
menjawab pertanyaanmu. Bukan karena aku tidak bi sa menjawab, melainkan aku tidak yakin
dengan kemampuan lidahku meras akan sama seperti apa yang engkau rasakan. Aku pun
masih terkekang oleh aroma mawar yang ada di tanganku ini.” Tandas sosok itu.
“Apa yang engkau maksud dengan kemampuan lidahmu?” tanyaku.
“Oh, seandainya engkau tahu sendiri bagaimana inderamu menari… kada ng-kadang
tidak sesuai dengan apa yang kita inginkan”, jawabnya.
“Engkau semakin membunuhku dengan sikap seekor lebah…” hardikku.
“Bolehkah aku bertanya dengan hatimu?, sahutnya.
“Silahkan, akan kujawab dengan lidahku”, jawabku.
“Apakah engkau masih menaru h cinta yang mendalam terhadap dia? Bahkan hingga
sekarang meskipun engkau tidak akan pernah bersetubuh lagi dengannya?”
“Masih… namun dengan keraguan-keraguanku yang tak menentu. Aku sadar masih
terjebak di perbatasan itu. Itulah yang menciptakan syair -syair bagi lagu-lagu yang selama ini
telah menghiburku…”
“Dan menggangguku?!” sahut sosok itu.
“Mengganggumu? Jadi selama ini nyanyianku mengganggumu? Maafkanlah aku. Aku
tidak tahu kalau ada orang lain selain aku di sini. Aku hanya ingin sedikit mengobati
kerinduanku dan ketakutanku”, kataku.
“Ketakutan..? ketakutan akan apa?”
“Ketakutanku menghadapi kenyataan bahwa aku telah berpisah dengan dia. Terpisah
tanah, air, udara, angin dan tentunya dengan hakikat dia”.
“Ha..ha..ha.. engkau benar-benar pecinta sejati. Kita memang ditakdirkan untuk
menetap selamanya di sini”.
“Apa maksudmu?”, tanyaku semakin keheranan.
“Tidakkah engkau tahu, bahwa inilah tempat tinggal kita sebenarnya. B ahkan sebelum
kita diberi udara, kita telah dibuatkan sebuah rumah, yaitu di sini , mengapa engkau harus
takut dan sedih?”, jawabnya.
“Tetapi apakah engkau tidak mengerti bahwa dialah tempat segala tawa , kesedihan, air
mata, cinta dan kerinduan yang mendasar dari aku sebagai suatu kesempurnaan yang
bermuara dan kemudian berputar saling mengisi? Dan sekarang aku kehilangan pusaran itu.
Ujung sungai telah mengeringkan dirinya, dan kini yang tertinggal hanya bekas”. Bantahku
berusaha menenangkan kegelisahan yang semakin memuncak.
“Itulah namanya sebuah permainan judi. Bila engkau mengalami kekalahan dan segala
hal yang kau pertaruhkan telah habis, maka pasti engkau ingin segera kembali ke sini. Dan
bila engkau selalu menang, aku yakin pasti engkau akan terus bertaruh dan takut untuk
kembali ke sini pula. Apakah engkau mengerti apa yang aku m aksud?”
“Ya, aku tahu. Jadi selama ini dia mempermainkan aku…?”, desahku.
“Lihatlah mawarku…”, perintah sosok itu.
Aku melihat ke arah tangan sosok itu, dalam genggamannya terdapat sekuntum
mawar, namun berwarna hitam. Baru kali ini aku menyadarinya.
“Engkau pasti bertanya-tanya mengapa mawar ini berwarna hitam. Mungkin ini dapat
engkau samakan dengan lagu-lagu yang selama ini engkau nyanyikan”, terang sosok itu.
“Ternyata engkau juga terjebak dalam permainan itu?” sahutku.
“Dahulu mawar ini berwarna merah. Semerah rekahan bibir para bidadari dan sesegar
hembusan angin surga. Orang-orang mengagumi dan memujaku. Bukan karena inti aku dari
aku, tetapi karena mawarku ini. Aku pertahankan mawar itu sekuat tenaga entah dengan cara
apapun. Aku pun berhasil. Para petaruh-petaruh lain semakin menghargai dan meninggikan
derajatku. Namun, tiba-tiba mawar itu hilang dari genggaman. Aku berusaha menanamnya
kembali, tetapi percuma. Sekarang aku sudah sangat jauh dari tempat mawar itu tumbuh dan
bersemi.“
Lalu?”, kejarku yang mulai menemukan awal dari ritme baru.
“Aku hanya bisa melihat mawar itu dari perbatasan ini, dan kemudian aku membuat
replikanya. Ternyata tidak bi sa. Mungkin bentuk sama, tapi ini sebenarnya mawar yang tak
berhakikat. Perasaanku yang terlalu merindu d an menyesal telah mencat mawar ini menjadi
hitam. Warna ini sudah tidak dapat diperbaiki lagi. Dan sekarang aku tahu.”
“Tahu apa? Bahwa ada hal yang lebih harum dari pada sekedar mawar ? Dan ternyata
selama ini ada yang lebih harum di diri kita dan ternyata kita justru membunuhnya hanya
demi mawar itu?”, tandasku.
Sosok tersebut memandangiku dengan senyum harapan. Aku pun secara tidak sadar
menatapnya. Aku terkejut. Aku tidak menyangka lidahku dapat mengatakan kalimat itu.
Jiwaku yang bergejolak mengucur den gan deras. Aku seperti diberi sepasang sayap yang
sering digunakan para cupid untuk terbang. Melesat jauh melebihi angan -anganku selama ini.
“Sekarang engkau telah menemukan jawaban mengapa engkau masih terjebak di sini.
Dan kau telah berhasil memecahkan p uzzlemu. Apakah engkau telah siap meninggalkan
perbatasan ini dan segala kerinduan, nyany ianmu tentang dia, dan juga mawarku ini dengan
segala konsekuensi yang selama ini telah kita rajut menjadi pakaian kumal dan kotor?”, Tanya
sosok itu.
Waktu terlihat semakin letih memutar gerigi -gerigi roda jam. Nafas yang terengahengah
seakan tidak mampu memberinya dorongan yang kuat.
“Entahlah… beri aku waktu sebentar. Aku masih mencintai dia. Tetapi… kini
mungkin aku sudah mulai menemukan cara menyusun puzzl e itu. Izinkan aku menyanyi
untuk dia beberapa bait lagi, s ekaligus menampar jantung ini le bih kuat”, jawabku dengan
pelan dan serau.
“Baiklah, aku akan segera beranjak dari sini. Aku tidak tahu apakah kita akan bertemu
lagi dalam balutan yang sama. Biarlah itu te tap menjadi misteri bagi kita yang selamanya,
abadi, dan terus dipertanyakan. Jangan khawatir, kita pasti akan segera menemukan
jawabannya.”
Sosok tersebut beranjak pergi dari sebelahku. Melangkah pelan menembus pekatnya
pintu dimensi yang kemudian menghil ang meninggalkan perbatasan itu untuk selamanya.
Yang tertinggal untukku hanyalah setangkai mawar hitam, yang seketika itu juga hancur
dihadapanku tanpa meninggalkan suatu pertanda apapun sebagai bukti kewujudannya kecuali
kematiannya.
Tidak terasa matahari sudah berlari dari timur untuk membagi -bagikan harapan. Tapi
tempat dimana aku duduk masih tampak seperti malam dengan kegelapannya yang memencar. Bahkan bias-bias cahaya pun enggan menemani aku. Aku bernyanyi untuk
terakhir kalinya. Tidak terdengar lagi kesedihan dan isak tangis yang mengiringi nyanyianku.
Angin mulai menyeka air mataku yang telah mengalir selama jutaan detik seperti
seorang kesatria yang menuruni bukit untuk menghadapi kekalahannya dalam perang yang tak
kunjung usai. Namun kali ini tida k ada kekalahan, melainkan luka yang telah tertutup oleh
genderang kemenangan laksana panji -panji yang berkibar dan terikat kokoh d i pelana
perasaan.